Nasehat untuk sukses dunia dan akhirat

September 27, 2008

Bersyukur apabila mendapat nikmat.

Bersabar apabila mendapat kesulitan.

Bertawakal apabila mempunyai rancangan/program.

Ikhlas dalam segala amal perbuatan.

Jangan membiarkan hati tenggelam dalam kesedihan.

Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan.

Jangan berputus asa dalam menghadapi kesulitan.

Jangan bersusah hati dengan kekayaan orang.

Jangan iri hati atas kejayaan orang.

Jangan sombong kalau memperoleh kejayaan.

Jangan tamak kepada harta.

Jangan terlalu bercita-cita tinggi kepada sesuatu kedudukan.

Jangan hancur karena kezaliman.

Jangan goyah karena fitnah.

Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.

Jangan campuri harta dengan harta yang haram.

Jangan sakiti perasaan ayah dan ibu.

Jangan usir orang yang meminta-minta.

Jangan sakiti anak yatim.

Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar.

Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil.

Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid).

Lakukan sholat dengan ikhlas dan khusyu.

Lakukan sholat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid.

Biasakan sholat malam.

Perbanyakkan berzikir dan berdoa kepada Allah.

Lakukan puasa wajib dan puasa sunat.

Sayangi dan hormat fakir miskin.

Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah.

Jangan marah berlebih-lebihan.

Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan.

Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah.

Berlatihlah memusatkan pemikiran.

Penuhi janji apabila telah dilafazkan dan mintalah maaf apabila ada sesuatu sebab yang menghalanginya.

Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan syaitan dan iblis.

Jangan percaya ramalan manusia.

Jangan terlampau takut miskin.

Hormatilah setiap orang.

Jangan terlampau takut kepada manusia.

Jangan sombong, takabur dan besar kepala.

Hormatilah tetangga.

Berlakulah adil dalam segala urusan.

Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah

Bersihkan rumah dari patung-patung berhala.

Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran.

Perbanyak silaturahmi.

Tutup aurat menurut anjuran Islam.

Bicaralah secukupnya.

Berkeluargalah kalau sudah siap segala-galanya.

Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu.

Biasakan hidup bersih, tertib dan  teratur.

Jauhkan diri dari penyakit-penyakit batin.

Sediakan waktu untuk beribadah dengan keluarga.

Makanlah secukupnya, tidak kekurangan dan tidak berlebihan.

Hormatilah kepada guru dan ulama.

Sering-seringlah bershalawat kepada nabi.

Cintai keluarga Nabi S.A.W.

Jangan terlalu banyak hutang.

Jangan terlampau mudah berjanji.

Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara.

Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti berbohong.

Bergaul lah dengan orang-orang shaleh.

Sering bangun di penghujung malam,  berdoa dan beristighfar.

Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu.

Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita.

Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi.

Jangan membenci seseorang karena faham dan pendirian mereka.

Jangan benci kepada orang yang membenci kita.

Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan.

Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.

Jangan melukai hati orang lain.

Jangan biasa berkata dusta.

Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian.

Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab.

Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Hormati orang lain yang lebih tua dari kita.

Jangan membuka aib orang lain.

Lihat orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita.

Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana.

Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan.

Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya.

Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara.

Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain.

Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara.

Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa.

Hargai prestasi dan pemberian orang.

Jangan habiskan waktu untuk sekadar hiburan dan kesenangan.

Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.

Sediakan waktu untuk beribadah yang sesuai dengan norma-norma agama dan keadaan diri kita.

Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan badan atau mental kita menjadi terganggu.

Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana.

Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita.

Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina.

Jangan cepat percaya kepada berita buruk mengenai rekan kita, sebelum diperiksa kebenarannya.

Jangan menunda melaksanakan tugas dan kewajiban.

Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan.

Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri.

Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan.

Yakinlah bahwa setiap kebaikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan.

Jangan bahagia di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang.

Menatap Masa Depan Perbankan Syari’ah

September 27, 2008

Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Adanya bank syariah merupakan bentuk perjuangan umat Islam Indonesia dalam pemikiran ekonomi (fikrah iqtishadiyyah) yang menginginkan adanya lembaga keuang-an yang beroperasi sesuai dengan syariah Islam.

Realita saat ini memperlihatkan bahwa sistem perekonomian dunia dikuasai oleh pemikiran ekonomi jahiliah, yang berbasis pada sistem ribawi. Dengan adanya praktik ekonomi syariah dalam bentuk kelembagaan, seperti yang sedang dijalankan oleh bank syariah saat ini, tidak lain dalam rangka mengembalikan tatanan perekonomian dari fikrah al-iqtishadiyah ar-ribawiyah ke fikrah al-iqtishadiyyah al-islamiah. Karena, menurut Imam al-Jashshas, sistem iqtishadiah ar-ribawiyah telah dibatalkan dan diharamkan oleh Allah Swt semenjak datangnya Islam.

Dalam hal ini, peran serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak dapat diingkari lagi. MUI sebagai wadah ulama Indonesia , telah ikut berperan dalam mengarsiteki kelahiran bank syariah di Indonesia .

Sebagai tanggung jawab moral, MUI akan selalu mengawal perjalanan perbankan syariah di Indonesia. Pengawalan ini sebagai wujud dari hifdz ad-dien, yaitu penjagaan praktik agama dari penyimpangan. Dalam hal ini, perlu adanya pagar untuk membatasi agar jalannya masih dalam koridor syariah. Di sinilah, fungsi fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), sebagai rambu-rambu dalam memandu operasional lembaga keuangan syariah (LKS), khususnya di industri perbankan syariah.

Fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI, selanjutnya akan diserap oleh pengambil kebijakan (regulator), seperti Bank Indonesia (BI) untuk industri perbankan syariah, Departemen Keuangan untuk industri asuransi dan pegadaian syariah, Bapepam LK untuk pasar modal dan reksadana syariah, serta Kementerian Koperasi dan UKM untuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS). Selain itu, wujud dari pengawalan praktik perbankan syariah di Indonesia terwakili melalui Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang ada dalam setiap bank syariah.

Proses sosialisasi

Saat ini, eksistensi perbankan syariah tergolong masih belia. Umurnya masih belasan tahun. Jika ada orang yang membandingkan dengan umur bank konvensional, perbandingan semacam ini tidaklah seimbang. Karena, dari sisi umur, bank konvensional sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia . Wajar jika masyarakat lebih terbiasa bertransaksi dengan bank konvensional.

Dari sini, perlu ada kerja keras untuk mendakwahkan bank syariah ke masyarakat luas. Dakwah ini termasuk bagian dari edukasi ke masyarakat agar mengenal dan bergabung dalam barisan orang-orang yang mempraktikkan ekonomi syariah.

Jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, dalam mendakwahkan Islam ke masyarakat Mekkah di awal Islam, proses sosialisasi perbankan syariah ke masyarakat saat ini, sesungguhnya jauh lebih mudah. Karena, saat ini sudah tersedia media dakwah dan media sosialisasi yang variatif dan lebih komprehensif. Walaupun begitu, ada perbedaan mendasar yang belum ditemukan dalam proses mendakwahkan perbankan syariah, yaitu belum ditemukan sentuhan nurani, seperti yang pernah dijalankan dalam dakwah Nabi Muhammad Saw.

Metode dakwah yang digunakan Nabi Muhammad Saw dalam mensosialisasikan Islam ke masyarakat syarat dengan kekuatan Ilahi. Ajakan yang diserukan oleh Nabi Muhammad Saw disampaikan dengan cara bil hikmah, sehingga ajaran Islam dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Becermin dengan metode dakwah yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw, tidak ada salahnya jika kita, pihak-pihak yang menginginkan industri perbankan syariah sebagai rahmatan lil ‘alamin, menjadikan metode dakwah Nabi Muhammad Saw sebagai rujukan (marja’) dalam proses sosialisasi perbankan syariah ke tengah-tengah masyarakat.

Saya yakin sosialisasi perbankan syariah ke masyarakat dapat dijalankan seperti apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad Saw, karena sesungguhnya perbankan syariah itu merupakan bagian dari ajaran Islam itu sendiri. Kalau hal ini sudah disadari oleh umat Islam Indonesia, bahwa mendakwahkan perbankan syariah adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam, insyaallah tanggung jawab ini tidak hanya dipikul oleh MUI, Direktorat Perbankan Syariah BI, Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), tetapi menjadi tanggung jawab (mas’uliyah) umat Islam keseluruhan, untuk turut serta mendakwahkan perbankan syariah ke masyarakat lainnya.

Saat ini, dirasakan tepat sekali, jika menjadikan masjid sebagai simpul kekuatan umat Islam di Indonesia. Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam, baik untuk beribadah maupun kegiatan sosial lainnya. Apalagi setiap hari Jum’at, umat Islam laki-laki, dituntut melaksanakan sholat jum’atan, sebagai suatu kewajiban. Ribuan masjid dan musholla yang tersebar dari Sabang di Aceh dan Merauke di Papua, dapat digunakan sebagai media dakwah untuk mensosialisasikan perbankan syariah.

Di sisi lain, sosialisasi perbankan syariah dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan yang sudah ada, yaitu dengan memperkenalkan materi pelajaran perbankan syariah sebagai bagian dari muatan lokal. Baik lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan. Atau lembaga pendidikan yang berafiliasi ke salah satu organisasi kemasyarakatan Islam, seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Mathla’ul Anwar, Jam’iyat Khair dan lainnya.

Selain itu, disadari masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan bank syariah. Realita ini perlu disikapi dengan penuh kearifan. Masalah yang penting, terkait dengan proses mendakwahkan eksistensi perbankan syariah terletak pada beberapa faktor, di antaranya perlunya peningkatan kegiatan dakwah dan edukasi ke masyarakat; perlunya penambahan dana dalam kegiatan dakwah, dan perlunya sinergi kelembagaan.

Selama ini, dakwah mensosialisasikan perbankan syariah sudah sering dilakukan oleh beberapa lembaga nirlaba, seperti Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES). Walaupun, ada kesan apa yang dilakukan PKES masih dianggap sendirian (munfaridan). Ibarat dalam pertempuran (ghozwah), PKES bertempur sendirian menghadapi serangan dari pihak konvensional. Oleh karena itu, ke depan perlu kita mendukung kegiatan yang selama ini dilakukan oleh PKES.

Selain itu, dalam proses dakwah mensosialisasikan perbankan syariah, masih memerlukan amunisi yang tidak sedikit. Baik, dalam bentuk tenaga maupun dana. Oleh karena itu, diperlukan sinergi kelembagaan untuk mempercepat perkembangan bank syariah di Indonesia . Akhirnya, semoga ikhtiar kita menjadi catatan amal ibadah di sisi Allah Azza Wa Jalla. Wallahu ‘alam bis showab.

ayo mari bergabung untuk memberdayakan ekonomi umat…!!!

Manajemen Keuangan Keluarga Islami

September 20, 2008

Keluarga Sakinah, Keluarga Kaya

Berbicara masalah rumah tangga sakinah, berdasarkan hadits Rasululliah SAW, ada empat ciri umum rumah tangga yang sakinah yaitu rumah yang luas kendaraan yang, baik, istri yang shloleh, dan rezeki yang halal dan baik

Kalau kita lihat keempat ciri tersebut dari kaca mata keuangan, keluarga sakinah adalah keluarga yang kaya. Baik itu kekayaan dalam arti harta maupun kekayaan batin. Dan kekayaan harta yang dimiliki, tapi juga kekayaan yang halal. Halal dzatnya dan halal cara perolehannya.

1. Rumah yang luas

Banyak yang memahami bahwa rumah yang luas adalah rumah yang memberikan’ kelapangan;bagi penghuninya. Lapang dalam arti memberikan rasa tenteram clan nyaman. Yang dalarn istilah asing sering kali kita dengar rumah yang bisa disebut sebagai home bukan cuma house.

Namun ada juga yang memahami bahwa rumah yang luas ini adalah luas atau besar secara fisik Karena, ajaran Islam akan rumah yang baik adalah rumah yang bisa menampung semua anggota keluarga dan tamu atau kerabat yang menginap. Ini„berarti rumah tersebut setidaknya memiliki kamar terpisah untuk orang tua, anak laki-laki, anak perempuan, pombantu rumah tangga, dan kamar untuk tamu.

Dan rumah tadi bukan cuma sekedar rumah untuk ditinggali tapi juga rumah yang dimiliki sendiri. Hal ini yang dipahami oleh Para fugoha bahwa rumah yang dimaksud adalah rumah rnilik sendiri, bukan rumah sewaan, Tentunya dapat hai ini dapat dimengerti karena tidak akan bisa tenang (sakinah) selamanya kalau rumahnya hanya sewaan dan sewaktu-waktu bisa diminta untuk pindah.

Selain itu, rumah yang baik bukan cuma milik sendiri dan secara fisik besar atau luas serta nyaman dan memberikan rasa tenteram untuk ditinggali. Rumah yang baik juga harus terletak dilingkungan yang baik pula. Ini merujuk kepada hadits nabi SAW:

“Dari Nafi’ bin Harits ra., ia berkata. “Rasulullah SAW bersabda; ‘merupakan kehahagiaan seseorang adalah tetangga yang shltih, kendaraan yang menyenangkan, dan rumah yang besar’ ” [HR. Ahmad]

Jadi, keluarga sakinah adalah keluarga yang,memiliki sendiri, bukan sekedar menyewa, rumah yang besar secara fisik, lapang dan nyaman untuk ditinggali dan terletak di lingkungan yang baik. Kalau merujuk pada kondisi sekarang, rumah dengan beberapa kamar dan herada di lingkungan yang baik tenfunya memiliki harga yang tidak murah. Mau kalau kita lihat Bari sudut pandang keuangan, dapat dikatakan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang kaya.

2. Kendaraan yang baik

Kendaraan yang baik juga menjadi salah satu ciri keluarga sakinah. Dengan adanya alat transportasi, setiap orang bisa dengan leluasa pergi ke tempat yang ditujunya. Mobilitas ini diperlukan untuk memudahkannya dalam beraktifitas. Mobilitas untuk bekerja, untuk silaturahim dan mobilitas untuk berdakwah.

Dan pada zaman sekarang, mobilitas bukan cuma dapat diartikan dengan alat transportasi saja, melainkan juga alat komunikasi. Karena alat komunikasi bisa menggantikan fungsi alat transportasi. Tidak perlu berada secara fisik di r suatu tempat untuk menyampaikan sesuatu. Karena teknologi komunikasi dewasa ini memungkinkan pengiriman pesan, baik suara ataupun gambar ke seluruh ponjuru dunia.

Sekali lagi kita lihat bahwa ciri keluarga sakinah, ditinjau dari aspek finansial, adalah keluarga yang kaya. Yaitu keluarga yang punya kendaraan sendiri dan memiliki alit komunikasi yang baik,

3. Istri yang sholeh

Ada banyak gambaran yang menjelaskan seperti apa itu istri yang sholeh. Namun dalam pernbicaraan yang berkaitan dengan keuangan ini, mungkin ada satu hadits yang tepat dalam menjelaskannya:

“Tidaklah seorang mukmin memohon sesuatu yang bermanfaat baginya setelah takwa itu lebih baik daripada istri yang sholehah, yaitu istri yang taat ketika diperintahkan, menyenangkan ketika dipandang, berbuat baik ketika bersumpah,, serta dapat menjaga diri dan memelihara harta ketika..suami tidak ada di rumah” [HR Ahmad]

Kalau dilihat dari kacamata keuangan, salah satu ciri istri yang sholeh adalah istri yang bisa menjaga kehormatan dan harta suami yang diamanahkan kepadanya. Dan satu cirinya lagi adalah istri yang punya sifat qana’ah, yang merasa cukup walau dengan yang sedikit dan tidak merasa berlebih dengan yang banyak.

Tentunya keshalihan ini bukan cuma tuntutan bagi istri, namun juga bagi suami. Pasangan suami-istri yang shalih dapat menjaga hartanya dari perolehan dan pemanfaatan yang tidak sesuai dengan syariat.

Kalau dua ciri pertama dari rumah tangga sakinah adalah mengenai kepemilikan harta, maka ciri yang ketiga ini adalah masalah perilaku pemiliknya dalam menjaga dan mengelola harta. Sikap amanah, tidak boros dan bersifat pertengahan dalam mengelola keuangan keluarga. Karena percuma saja harta yang berlimpah jika pemiliknya tidak amanah. Harta menjadi tidak berarti bagi kepentingan umat, dan bukan tidak mungkin menjadi sangat rapuh dengan kemegahan dan foya-foya,

4. Rezeki yang halal dan thoyib

Sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, kekayaan keluarga sakinah haruslah berasal dari rezeki yang halal lagi baik. Karena rezeki yang tidak halal tidak akan membawa kebaikan sama sekali. Jika diberikan nafkah kepada keluarga dengan rezeki yang haram, hal itu tidak akan membawa keberkahan. Jika disedekahkan harta yang haram, tidak akan diterima sedekahnya oleh Allah SWT. Dan jika diwariskan kepada keturunannya, hal itu justru akan menambah siksa neraka.

Yang dimaksud dengan dengan rezeki yang halal bukan cuma halal dzatnya, melainkan juga halal dalam perolehan, penyimpanan dan pengembangannya. Halal secara dzatnya mungkin masih bisa dengan mudah kita jaga. Tapi ditengah arus globalisasi, Cara perolehan rejeki yang halal menjadi semakin kabur. Untuk itu diperlukan pemahaman yang baik akan hal ini agar rezeki yang kita peroleh dengan kerja keras menjadi rezeki yang membawa keberkahan.

Dari keempat ciri tersebut, dapat disirnpulkan secara sederhana. Bahwa keluarga yang sakinah, ditinjau dari aspek finansial, adalah keluarga yang kaya. Yaitu keluarga yang memiliki aset yang baik, dapat menjaga kekayaannya dengan amanah, dan sumber kekayaannya tersebut hanya didapat dengan cara yang halal clan thayib.

Mengelola Keuangan Keluarga

Mengelola keuangan keluarga adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan baik. Jika berhasil dalam mengelola keuangan keluarga, maka bukan cuma kebahagian dunia saja yang bisa didapat, Bahkan harta pun dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat. Karena sebagai sebuah keluarga muslim, haria yang dimiliki dan penghasilan yang didapat adalah sarana untuk mencukupi kebutuhan material dan spiritual. Namun jika gagal dalam mengelola uang, bukan tidak, mungkin keluarga akan jauh sakinah.

Kalau kita bicara pengelolaan keuangan keluarga, maka tidal lepas dari 5 hal penting dalarn pengelolaan keuangan keluarga. Yaitu:

1. Sumber pendapatan

2. Alokasi pengeluaran

3. Pengelolaan surplus dan investasi

4. Pengelolaan defsit dan hutang

5. Aset, kepemilikan dan perlindungannya

1. SUMDER PENDAPATAN

Selama ini paradigma masyarakat pada umumnya masih sangat sempit dengan mengganggap bahwa berpenghasilan itu artinya bekerja sebagai karyawan. Hal ini dapat dengan jelas tergambarkan pada motivasi orang tua dan mahasiswa itu sendiri ketika kuliah atau sekolah. Sekolah atau kuliah agar menjadi pintar dan mendapatkan nilai yang baik supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik pula.

Padahal berpenghasilan bukan mesti bekerja. Karena kalau semuanya hanya mengandaikan untuk menjadi karyawan, maka akan ada banyak sekali pengangguran karena tidak seimbangnya lapangan pekerjaan dan jumlah penduduk. Berpenghasilan bisa berbagai macam caranya. Salah satu rujukan mungkin adalah dengan membagi sumber nafkah kedalam empat kelompok yaitu sebagai karyawan, pekerja mandiri, pemilik usaha dan investor.

1. Sebagai karyawan. Bekerja untuk orang lain dan mendapatkan gaji alas pekerjaan yang dilakukan.

2. Sebagai pekerja mandiri/professional. Menjual keahlian/jasa dan mendapatkan honor/fee atas keahlian/jasa tersebut. Atau bekerja seperti karyawan di usaha yang dimiliki sendiri.

3. Sebagai pemilik usaha. Memiliki usaha sendiri yang dikelola oleh orang lain dan mendapatkan hasil usaha berupa dividen.

4. Sebagai investor. Menanamkan uang pada produk-produk investasi tertentu sehingga mendapatkan hasil berupa margin, bagi hasil, capital gain, dll.

Tidak dapat dikatakan bahwa satu sumber pendapatan lebih baik daripada sumber pendapatan yang lain karena masing-masing punya karakteristik sendiri. Yang penting adalah untuk bersikap terbuka dan tidak mengandalkan penghasilan hanya dari bekerja saja. Dan yang lebih penting bagi seorang Muslim adalah memperhatikan dua kaidah dalam masalah pemasukan yaitu halal dan thayib. Dua criteria ini tidak bisa ditawar-tawar, penghasilan seorang muslim mesti halal dan baik. Alhamdulillah kalau bukan cama halal dan baik, tapi juga banyak.

2. ALOKASI PENGELUARAN

Ketika membuat anggaran bulanan, seringkali terjadi bahwa pengeluaran temyata lebih besar daripada pemasukan. Untuk mencapai kondisl ideal dimana setidaknya pengeluaran lama dengan perasukan, bahkan kalau bisa pengeluarannya lebih kecil, maka mau tidak mau anggarannya hares direvisi. Revisi pengeluaran bisa berarti pengurangan atau bahkan penghapusan pos-pos tertentu dalam anggaran pengeluaran.

Masalahnya adalah, pos mana yang bisa dikurangi atau dihilangkan? Untuk itu, maka diperlukan urutan prioritas pengeluaran. Berikut ini gagasan kami dalam menyusun anggaran pengeluaran. Yaitu dengan membaginya menjadi 4 kelompok dan memprioritaskannya sebagai berikut:

1. ZIS

2. Cicilan hulang

3. Premi asuransi dan tabungan rutin

4. Biaya hidup

3. PENGELOLAAN SURPLUS DAN !NVESTASI

Surplus adalah kondisi ideal dimana pemasukan bisa lebih besar daripada pengeluaran agar ada kelebihan yang dapat digunakan untuk kepentingan masa depan. Namun surplus bukanlah kondisi yang kebetulan, surplus adalah kondisi yang dapat direncanakan jika kita mau. Caranya adalah dengan memasukkan komponen surplus ini dalam prioritas anggaran. Bisa kita lihat pada sub bahasan sebelumnya bahwa premi asuransi dan setoran tabungan rutin justru ditempatkan lebih dahulu dibandingkan dengan pengeluaran untuk biaya hidup.

Kalau Anda masih memiliki paradigma lama bahwa menabung adalah menyisihkan sisa anggaran bulanan untuk disimpan, biasanya akan sangat sulit untuk bisa menabung secara rutin. rubahlah paradigma tersebut menjadi menabung adalah mengeluarkan uang secara rutin dan prioritas untuk masa depan. Insya Allah dengan Cara ini kita bisa menabung dengan konsisten.

Tips menabung dari Rasulullah saw: Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HR Muslim & Ahmad]

Rumus menabung:

Menabung = usaha yang baik + belanja yang sederhana

Kebanyakan masyarakat tidak memiliki program dalarn menabung: Walaupun bisa menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin namun tidak memiliki program yang baik untuk alokasinya. Menurut hemat kami, akan lebih baik jika program menabung disesuaikan dengan rencana dan tujuan keuangan setiap orang yang tentunya berbeda. Contohnya, menabung untuk biaya pendidikan anak, menabung untuk membeli rumah, menabung untuk ongkos naik haji dan sebagainya. Dengan begitu kita tidal akan kebingungan lagi dalam memilih produk keuangan yang tepat untuk setiap program tabungan.

4. PENGELOLAAN DEFISIT DAN HUTANG

Defisit adalah kondisi dimana pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan. Pada dasarnya bisa diatasi dengan cara mengurangi pengeluarannya, dan/atau menambah pemasukannya. Tapi tentunta tidak semua masalah defisit bisa selesai begitu saja. Untuk bisa memberikan solusi yang efektif, perlu dilihat dulu tipe defisitnya.

Defisit bisa terjadi karena adanya.pengeluaran yang bersifat mendadak atau darurat. Untuk defisit yang seperti ini, jalan keluarnya adalah dengan membentuk dana cadangan. Defisit juga bisa terjadi karena semakin bertambah mahainya harga-harga kebutuhan, sedangkan kenaikan gaji tak bisa mengejar kenaikan harga. Mau tidak mau, hanya ada satu jalan keluarnya, cad penghasilan tambahan! Kalau penghasilan sudah bertambah, tapi kondisi tidak juga berubah. Apalagi dengan semakin besarnya penghasilan, ternyata semakin besar pula pengeluarannya. Untuk hal ini, solusinya adalah dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Itu adalah solusi jangka panjang, tapi bagaimana solusi jangka pendeknya sehingga untuk menutip kekurangan anggaran? Prioritaskanlah penanggulangan defisit dan dana cadangan, ini adalah pundi simpanan yang sifatnya likuid untuk menutupi defisit yang sewaktu-waktu terjadi. Jika dana cadangan tidak cukup, mungkin terpaksa Anda berhutang. Tapi hati-hati dengan hutang, hutang memang bisa menjadi kawan, tapi is juga bisa menjadi lawan. Alau altematif solusinya bisa juga dilakukan penjualan asset, tentunya harus diperhatikan besarnya asset yang dijual dan kebutuhannya.

5. ASSET, KEPEMILIKAN, DAN PERLINDUNGANNYA

Investasi dalam produk keuangan saja tidak cukup, karena diperlukan diverifikasi yang baik ke dalam asset-asset tetap. Walaupun hasilnya kurang baik dalam jangka pendek dan relatif tidak likuid, namun investasi dalam bentuk asset tetap akan optimal dalam jangka panjang serta dapat berfungsi sebagai buffer dalam jangka pendek.

Untuk menjaga asset yang dimiliki, maka diperlukan perlindungan atas resiko yang mungkin terjadi. Perlindungan itu didapat dad produk keuangan yang dikenal sebagai asuransi. Selain memproteksi asset, asuransi juga penting dalam memproteksi penghasilan. Tapi apakah semua aset dan penghasilan perlu diproteksi? Apakah semua orang butuh asuransi? Dan apakah proteksi ini hanya didapat dari asuransi? Tentunya tidak. Karena asuransi yang tidak pada tempatnya, walaupun tujuannya baik, tetap saja bisa disebut sebagai pemborosan.

Satu hal lagi yang perlu kita perhatihan bahwa dalam hal kepemilikan harta, Islam mengakui sepenuhnya hak perempuan akan harta milknya sendiri terpisah dari harta suaminya, terutama dalam masalah hak waris dimana hak wanita diakui secara mutlak. inilah yang tidak kita temukan pada keuangan keluarga non-muslim.

Keplexs Story

September 20, 2008

Berawal dari sebuah profile orang orang yang banyak berangan-angan tetang apa yang akan teradi di masa yang akan datang, dari sebuah kesederhanaan, ke akraban sampai pada persaudaraan, yang terlahir dari sebuah lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi di DKI Jakarta tepatnya di Jl. Keramat Raya No.10 Jakarta Timur. Lima tahun sudah didik untuk menjadi seorang yang trampil, kreatif dan mandiri yang berwawasan luas untuk membangun sebuah peradaban baru yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa dan agama. Alasan pemilihan nama cocok dengan karakteristik para pemuda yang menjadi anggotanya seperti badan kurus, tinggal di kost-kost an kumuh, sering nunggak SPP dan selalu terlambat masuk apabila ujian sedang berjalan. Dari kesemua itu bukan menjadi suatu alasan untuk menyerah dari sebuah cita-cita yang tinggi untuk dapat meraih gelar sarjana ekonomi, yang konon menurut orang tua dengan gelar tersebut maka akan mudah untuk mencari kerja dan ada kebanggaan tersendiri dari orang tua apabila anaknya sudah meraih gelar sarjana. Ternya luput dari dugaan kita, bahwa bukanlah suatu jaminan buat kita untuk dapat berbangga hati dengan memperoleh gelar sarjana tersebut. Persaingan begitu ketat banyak para lulusan sarjana dari universitas yang memiliki nilai akreditasi lebih baik dari kami masih belum beruntung dalam mencari kemapanan hidupnya. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang salah, apakah sistem atau nasib saja yang belum perpihak kepada kita. Melalui form ini kita mencoba membuat visi untuk mengangkat kembali izah anggotanya untuk mampu  lebih kreatif, inovatif dan mapan dalam menghadapi tantangan di tengah era globalisasi. Adapun misi nya membentuk sebuah forum komunikasi di dunia maya untuk menjadi sebuah media silaturahim yang kan dapat menjadi pusat informasi segala hal baik ilmu pengetahuan, peluang, konsultasi, bisnis, manajemen dan lain-lain. Sedangkan nilai nilai yang ditanamkan kepada anggotanya adalah yang baik menurut Al-Quran dan Assunah serta menanam kan akhlakul karimah kedalam diri pribadi masing-masing anggotanya dan menjalin kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan suku, ras dan agama. Blog ini sekedar sarana awal di samping dari milist yang sudah terbentuk (keplexs@yahoogroups.com) dan siapapun boleh menjadi member dari group keplexs ini yang sekarang menjadi lebih terbuka dan inklusif. Silahkan bergabung dengan kami untuk membuat suatu perubahan yang berarti untuk diri sendiri maupun orang lain. terimakasih atas segala kritik yang membangun untuk kesuksesan kita bersama.

Be agood moeslem or die as syuhada

Be agood moeslem or die as syuhada

(kusuma,095692441254)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.